jaringberita.com -Perdana Menteri (PM) Israel Yair Lapid geram pada keputusan Pemerintah Australia, yang berhenti mengakui Yerusalem Barat sebagai ibu kota negara Yahudi itu. Keputusan ini mengubah keputusan Pemerintahan sebelumnya.
Dilansir kantor berita AFP, kemarin, Lapid yang langsung naik pitam, mengkritik Australia. Dia menggambarkan langkah itu sebagai tanggapan tergesa-gesa.
“Kami hanya bisa berharap Pemerintah Australia mengelola hal-hal lain dengan lebih serius dan profesional. Yerusalem adalah Ibu Kota Israel yang abadi, bersatu dan tidak ada yang akan mengubah itu,” tegas Lapid dalam sebuah pernyataan yang dirilis kantornya.
Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan, telah memanggil Duta Besar Australia untuk mengajukan protes resmi atas keputusan tersebut.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong mengumumkan perubahan kebijakan pemerintahan terdahulu, dengan membatalkan pengakuan Australia atas Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel.
Kepemimpinan PM Anthony Albanese, katanya, akan terus mendorong solusi dua negara, antara Israel dan Palestina dalam menciptakan perdamaian di wilayah itu.
Menurut Penny Wong, status kota itu harus diputuskan melalui pembicaraan damai antara Israel dan Palestina, dan bukan melalui keputusan sepihak.
“Kami tidak akan mendukung pendekatan yang merusak solusi dua negara. Kedubes Australia selalu, dan tetap di Tel Aviv,” tandasnya.
Kendati demikian, Wong menekankan, Australia akan selalu menjadi teman setia Israel. Kebijakan Australia terkait Israel yang dibuat PM Australia terdahulu, Scott Morrison, kata Wong, sangat politis, yakni untuk memenangkan suara dalam pemilu.
“Saya menyesal bahwa keputusan Morrison untuk bermain politik mengakibatkan pergeseran posisi Australia,” kata Wong.
Pada 2018, Pemerintahan konservatif yang dipimpin PM Morrison mengikuti jejak Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, mengakui Yerusalem barat sebagai ibu kota Israel.
Langkah itu memicu reaksi domestik di Australia dan menyebabkan gesekan dengan negara tetangga Indonesia. Jakarta memutuskan menangguhkan kesepakatan perdagangan bebas dengan Canberra.
Kepala Delegasi Umum Palestina untuk Australia, Selandia Baru dan Pasifik Izzat Abdulhadi mengatakan, perubahan itu bisa diterima. Katanya, itu merupakan langkah penting ke arah yang benar, menuju implementasi dari solusi dua negara.
Diketahui, bahwa Yerusalem diklaim Israel dan Palestina. Israel menganggap seluruh kota, termasuk sektor timur yang dicaploknya setelah perang Timur Tengah 1967, sebagai ibu kotanya.
Sedangkan Palestina, seperti dilansir rM.id, dengan dukungan dunia internasional yang luas, ingin Yerusalem Timur yang diduduki menjadi ibu kota negaranya di masa depan