Pakar Ungkap Misteri Mumi 'Putri Duyung' Jepang, Benar Makhluk Mistis?

Faeza
Para pakar sukses menguak misteri mumi 'putri duyung' yang ada di Kuil Enju-in, Jepang. Apakah benar itu makhluk mistis? Mumi yang disangka putri duyung di Jepang ternyata buatan manusia. (Kurashiki University of Science and The Arts)

jaringberita.com - Sebuah mumi 'putri duyung' yang semula disangka makhluk mitologi ternyata hasil kreasi manusia. Itu terungkap lewat analisa terbaru para pakar menggunakan berbagai metode.

Mumi 'putri duyung' itu sendiri berada di Kuil Enju-in di kota Asakuchi, Jepang. Ia memiliki panjang 30 cm dengan penampakan kaki mirip ekor ikan dengan dua lengan yang mirip manusia dan gigi yang jarang pada bagian mulut.

Dalam mitologi Jepang, makhluk mirip ikan tersebut disebut dengan ningyo. Mumi tersebut berada di dalam kotak kayu yang bertuliskan tanggal penangkapannya, diduga sekitar tahun 1740 di pinggir pantai di daerah yang sekarang disebut Kochi.

Melansir Science Alert, para pakar di Kurashiki University of Science and Arts (KUSA) bekerjasama dengan pihak Kuil untuk menguak identitas mumi tersebut.

Mereka menggunakan beberapa metode yakni pencitraan sinar X, pemindaian CT sinar X, mikroskopik optikal dan elektron, analisa sinar X berpendar (fluorescent X-ray analysis), analisa DNA, dan penanggalan radio karbon.

Dari beragam analisa tersebut, para pakar mendapati bagian dalam mumi tersebut tak bertulang. Selain itu, mumi tersebut juga dibuat menggunakan beragam bagian.

Mumi ini tidak dibuat dengan kayu melainkan bahan pakaian, kapas, dan kertas. Bahan-bahan itu lalu dilapisi bahan yang terbuat oleh campuran bubuk arang atau pasir dengan pasta.

Pada bagian kepala, mayoritas bahan-bahannya berasal dari kapas yang dilapisi bahan seperti gipsum. Sisik-sisik ikan yang ada pada tubuh makhluk ini juga ternyata dibuat dari dua jenis ikan yakni ikan buntal dan ikan tirusan (croaker fish).


Penulis
: CNN Indonesia
Editor
: La Tansa

Tag:

Berita Terkait

Internasional

Misteri Mumi Putri Duyung di Jepang Selama Dua Abad Terpecahkan