ASDP Sukses Modernisasi Angkutan dan Penggunanya


Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi (tengah) didampingi Direktur Komersial dan Pelayanan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Yusuf Hadi (kiri) saat melakukan wawancara podcast

jaringberita.com -PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menyulap kondisi pelabuhan yang dikelolanya semakin modern dan setara dengan pelabuhan yang ada di luar negeri. Tak hanya mengakomodasi angkutan barang, tapi juga menjadi destinasi wisata bagi penumpang.

Direktur Utama ASDP Indonesia Ferry, Ira Puspadewi mengatakan, perubahan yang dilakukan perseroan bukan hanya mengubah sistemnya. Tapi juga mengubah perilaku konsumen. Salah satunya, ketika menerapkan digitalisasi pada pembelian tiket secara online.

“Istilahnya, ASDP ini pendatang yang mau menerapkan teknologi baru. Jadi, kulonuwon-nya perlu strategi yang sangat khusus. Karena bermacam-macam orang ada di pelabuhan,” ujar Ira.

Saat ini, perseroan mengelola 314 lintasan angkutan penyeberangan yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Sekarang, semuanya sudah terdigitalisasi. Tiket sudah online, termasuk yang perintis. Tidak ada lagi tiket kertas yang disobek,” katanya.

Menurut Ira, proses digitalisasi pada sistem tiket sudah dilakukan sejak 2019. Hanya saja, badai pandemi Covid-19 di awal tahun 2020 membuat mobilisasi orang untuk bepergian dibatasi.

Di samping itu, menurut mantan Direktur Ritel, Jaringan dan Sumber Daya Manusia (SDM) PT Pos Indonesia ini, masih banyak tantangan lain yang dihadapi. Termasuk dari sisi perolehan pendapatan.

Pasalnya, dari jumlah 315 lintasan tersebut, 70 persennya merupakan lintasan angkutan penyeberangan perintis. Hanya 30 persen merupakan komersial.

“Tapi yang 70 persen lintasan ini, atau 222 lintasan, hanya menghasilkan pendapatan 20 persen. Sedangkan yang 30 persen lintasan menghasilkan pendapatan 80 persen. Bayangkan itu,” ungkap bos operator pelabuhan terbesar di dunia ini.

Dengan demikian, perusahaan dituntut untuk tetap sehat demi memastikan pelayanan di seluruh lintasan. Khususnya yang perintis, bisa berjalan dan tetap sustain.

Sebab, sebagai perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara), pihaknya tidak hanya berfokus pada mendapatkan keuntungan secara bisnis. Tapi juga harus menjalankan perannya sebagai agent of development.

Untuk itu, pada Maret 2022 pihaknya mengakuisisi perusahaan ferry swasta terbesar swasta di Indonesia dan nomor dua di bawah ASDP, yaitu PT Jembatan Nusantara.

“Seluruh lintasan mereka komersial. Dengan begitu kami bisa memperbesar portofolio agar lebih balance,” aku Ira.

Terlebih, kata dia, Pemerintah juga banyak mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang lokasinya dekat dengan pelabuhan.

Dia mencontohkan, pihaknya sudah berpartisipasi langsung di daerah wisata prioritas yang yang ditentukan Presiden Jokowi. Antara lain, di Danau Toba-Sumatera Utara, Labuan Bajo-Nusa Tenggara Timur (NTT) dan di Likupang-Sulawesi Utara.

“Yang lagi kami garap itu di Lampung, akan jadi kawasan wisata baru. Kami bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung dan mitra mengelola 175 hektar (Ha). Di situ akan ada Krakatau Park, Museum Krakatau,” jelasnya.

Di samping itu, lanjut mantan Dirut PT Sarinah (persero) itu, pihaknya juga mulai bersiap-siap merancang angkutan kapal long distance yang melayani angkutan material bangunan yang dibutuhkan untuk membangun Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

“Nanti ada banyak peralihan barang, terutama dari Jawa ke Sumatera dan IKN. Peran kami pasti besar di situ. Yang menarik juga, waktu pandemi barang curah yang tidak di atas kendaraan, itu naiknya 40 persen,” bebernya.

Karenanya, meski menghadapi badai pandemi, perseroan tetap mampu mencatatkan kinerja positif, yaitu meraup pendapatan tertinggi dalam sejarah.

Sebagai gambaran, ASDP mencatatkan laba bersih sebesar Rp 340 miliar di semester I-2022. Jumlah ini, naik 123 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 152,52 miliar. Sementara itu, perseroan juga mengantongi pendapatan terbesar dalam sejarah, yaitu Rp 2,05 triliun pada semester I-2022.

Hal ini dikarenakan mobilitas barang dan logistik tetap dalam posisi stabil, bahkan lebih tinggi. Meski angkutan penumpang mengalami penurunan.

“Ternyata setelah dihitung-hitung, insya Allah laba kami melebihi dari dua tahun lalu,” katanya dilansir dari RM.id.

Di kesempatan yang sama, Direktur Komersial dan Pelayanan ASDP Indonesia Ferry, Yusuf Hadi menambahkan, selain menjaga kinerja tetap positif, ke depannya ASDP bukan hanya menjadi sarana mobilisasi barang dan penumpang, tapi juga sebagai sarana wisata.

Tak hanya itu, pihaknya juga mulai memetakan pelabuhan yang bisa menghubungkan pulau dengan pulau. Sehingga, angkutan logistik bisa masuk dan menciptakan sentra ekonomi baru di daerah tersebut.

“Next time tidak hanya ke penyebrangan basic, tapi juga paketnya (wisata). Memang perlu usaha besar untuk mewujudkannya,” imbuh Yusuf.


Tag:

Berita Terkait